Sahabat
Muslim , ketika kita hendak memulai membangun
bisnis atau usaha maka niatkanlah meraih keberkahan hasil usahanya
melalui Ridho Allah. Kali ini kita akan membongkar rahasia membangun
bisnis yang barokah melalui 4 pilar kesuksesan.
Masih ingatkah sahabat saat Abdurrahman bin Auf berbekal hanya baju yang menempel di badan dan rela menanggalkan seluruh aset bisnisnya guna melaksanakan perintah Hijrah dari Rasulullah SAW?. Abdurrahman bin Auf adalah 8 dari Asabiqunal Awalun dan salah satu saudagar terkaya di tanah Haram pada masa itu, melaksanakan tugasnya Hijrah guna menjalankan roda Dakwah Rosullah SAW, kala itu embargo politik dan ekonomi kaum Quraisy di Mekah, mengharuskan kaum muslimin melaksanakan Hijrah.
Sesampainya di Yatsrib nama kota Madinah di masa lampau, Rosulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin yang berhijrah dengan kaum Anshor penduduk asal Madinah yang mayoritas petani.
“Semoga Allah Swt. memberkahi hartamu dan keluargamu, tunjukkanlah kepadaku di mana pasar.” Kata salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga ini ketika Sa’ad ibnu Arabi Alausani, sahabat dari kaum Anshor yang di persaudarakan oleh Rasulullah menawarkan setengah hartanya dan satu dari kedua istri yang akan diceraikan menjadi milik Abdurrahman bin Auf.
Singkat cerita atas izin Allah, kepiawaiyan Abdurrahman bin Auf dalam menjalankan bisnisnya mampu menguasai perekonomian pasar yang sebelumnya di kuasai Kaum Yahudi. Sejak itulah kehidupan Abdurrahman menjadi makmur. Seandainya ia mendapatkan sebongkah batu, maka di bawahnya terdapat emas dan perak. Begitu besar berkah yang diberikan Allah kepadanya sampai ia dijuluki ‘Sahabat Bertangan Emas’.
Sahabat, penggalan kisah sukses “orang-orang terdahulu” merupakan pembelajaran yang berharga bagi kita akan pentingnya membangun bisnis atau wirausaha melalui pilar-pilar prinsip sukses yang didirikan berdasarkan prinsip-prinsip yang Islami. Ada 4 Pilar sukses yang dapat dirangkum dari kesuksesan generasi emas, generasi para sahabat Rosulullah SAW.
Pertama, Sukses Bersama Allah :
Tauhidullah adalah pondasi awal menjalankan bisnis, karena dengan keyakinan bahwa Allah merupakan sumber kesuksesan, sumber kekuatan dan maha pemegang rizki, akan memudahkan kita meraih sumber-sumber keberkahan yang di berikan oleh Allah SWT.
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui (TQS al-Maidah [5]: 54.
“orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengigat Allah, melaksanakan Sholat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat),
Mereka (melakukan itu) agar Allah memberi balasan dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.” (Q.S. 24:37-38)
Kedua, sukses bersama Al Qur’an
Menjadikan Al Qur’an sebagai sahabat, Inspirasi dan solusi.
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al Quran) dan melaksanakan Solat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi” (Q.S. 35:29)
Ketiga, sukses dengan kesholihan
Cukuplah menjadi Ibroh kesuksesan Rosulullah dan para sahabatnya, “orang-orang sholeh terdahulu” yang dijamin masuk syurga oleh Allah SWT.
“dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka, dan memperbaiki keadaan mereka” (Q.S.47:2)
Keempat, sukses dengan berbagi
Fakta sejarah membuktikan, Abdurrahman bin Auf pernah menyumbangkan seluruh barang yang dibawa oleh kafilah perdagangannya kepada penduduk Madinah padahal seluruh kafilah ini membawa barang dagangan yang diangkut oleh 700 unta yang memenuhi jalan-jalan kota Madinah. Selain itu juga tercatat Abdurrahman bin Auf telah menyumbangkan dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan antara lain 40,000 Dirham (sekitar Rp 1.4 Milyar uang sekarang), 40,000 Dinar (sekarang senilai +/- Rp 48 Milyar uang sekarang), 200 uqiyah emas, 500 ekor kuda, dan 1,500 ekor unta.
Beliau juga menyantuni para veteran perang badar yang masih hidup waktu itu dengan santunan sebesar 400 Dinar (sekitar Rp 480 juta) per orang untuk veteran yang jumlahnya tidak kurang dari 100 orang.
Dengan begitu banyak yang diinfaqkan di jalan Allah, beliau ketika meninggal pada usia 72 tahun masih juga meninggalkan harta yang sangat banyak yaitu terdiri dari 1000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3,000 ekor kambing dan masing-masing istri mendapatkan warisan 80.000 Dinar. Padahal warisan istri-istri ini masing-masing hanya ¼ dari 1/8 (istri mendapat bagian seperdelapan karena ada anak, lalu seperdelapan ini dibagi 4 karena ada 4 istri). Artinya kekayaan yang ditinggalkan Abdurrahman bin Auf saat itu berjumlah 2,560,000 Dinar atau sebesar Rp 3.072 trilyun untuk kurs uang Rupiah saat tulisan ini dibuat !
“…dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan” (Q.S.65:7)
Sahabat, seorang wirausahawan sejati haruslah bersiap melalui proses dan harus bersiap untuk jatuh bangun. Seberapa pun besarnya kemampuan kita memeras darah dan keringat untuk membangun bisnis maka tidak lah kokoh ketika 4 pilar dasar kesuksesan ini tidak tertancap ke dalam prinsip dasar kesuksesan kita.
“LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH” .
Wassalamualaikum WR. WB
Masih ingatkah sahabat saat Abdurrahman bin Auf berbekal hanya baju yang menempel di badan dan rela menanggalkan seluruh aset bisnisnya guna melaksanakan perintah Hijrah dari Rasulullah SAW?. Abdurrahman bin Auf adalah 8 dari Asabiqunal Awalun dan salah satu saudagar terkaya di tanah Haram pada masa itu, melaksanakan tugasnya Hijrah guna menjalankan roda Dakwah Rosullah SAW, kala itu embargo politik dan ekonomi kaum Quraisy di Mekah, mengharuskan kaum muslimin melaksanakan Hijrah.
Sesampainya di Yatsrib nama kota Madinah di masa lampau, Rosulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin yang berhijrah dengan kaum Anshor penduduk asal Madinah yang mayoritas petani.
“Semoga Allah Swt. memberkahi hartamu dan keluargamu, tunjukkanlah kepadaku di mana pasar.” Kata salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga ini ketika Sa’ad ibnu Arabi Alausani, sahabat dari kaum Anshor yang di persaudarakan oleh Rasulullah menawarkan setengah hartanya dan satu dari kedua istri yang akan diceraikan menjadi milik Abdurrahman bin Auf.
Singkat cerita atas izin Allah, kepiawaiyan Abdurrahman bin Auf dalam menjalankan bisnisnya mampu menguasai perekonomian pasar yang sebelumnya di kuasai Kaum Yahudi. Sejak itulah kehidupan Abdurrahman menjadi makmur. Seandainya ia mendapatkan sebongkah batu, maka di bawahnya terdapat emas dan perak. Begitu besar berkah yang diberikan Allah kepadanya sampai ia dijuluki ‘Sahabat Bertangan Emas’.
Sahabat, penggalan kisah sukses “orang-orang terdahulu” merupakan pembelajaran yang berharga bagi kita akan pentingnya membangun bisnis atau wirausaha melalui pilar-pilar prinsip sukses yang didirikan berdasarkan prinsip-prinsip yang Islami. Ada 4 Pilar sukses yang dapat dirangkum dari kesuksesan generasi emas, generasi para sahabat Rosulullah SAW.
Pertama, Sukses Bersama Allah :
Tauhidullah adalah pondasi awal menjalankan bisnis, karena dengan keyakinan bahwa Allah merupakan sumber kesuksesan, sumber kekuatan dan maha pemegang rizki, akan memudahkan kita meraih sumber-sumber keberkahan yang di berikan oleh Allah SWT.
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui (TQS al-Maidah [5]: 54.
“orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengigat Allah, melaksanakan Sholat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat),
Mereka (melakukan itu) agar Allah memberi balasan dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.” (Q.S. 24:37-38)
Kedua, sukses bersama Al Qur’an
Menjadikan Al Qur’an sebagai sahabat, Inspirasi dan solusi.
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al Quran) dan melaksanakan Solat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi” (Q.S. 35:29)
Ketiga, sukses dengan kesholihan
Cukuplah menjadi Ibroh kesuksesan Rosulullah dan para sahabatnya, “orang-orang sholeh terdahulu” yang dijamin masuk syurga oleh Allah SWT.
“dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka, dan memperbaiki keadaan mereka” (Q.S.47:2)
Keempat, sukses dengan berbagi
Fakta sejarah membuktikan, Abdurrahman bin Auf pernah menyumbangkan seluruh barang yang dibawa oleh kafilah perdagangannya kepada penduduk Madinah padahal seluruh kafilah ini membawa barang dagangan yang diangkut oleh 700 unta yang memenuhi jalan-jalan kota Madinah. Selain itu juga tercatat Abdurrahman bin Auf telah menyumbangkan dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan antara lain 40,000 Dirham (sekitar Rp 1.4 Milyar uang sekarang), 40,000 Dinar (sekarang senilai +/- Rp 48 Milyar uang sekarang), 200 uqiyah emas, 500 ekor kuda, dan 1,500 ekor unta.
Beliau juga menyantuni para veteran perang badar yang masih hidup waktu itu dengan santunan sebesar 400 Dinar (sekitar Rp 480 juta) per orang untuk veteran yang jumlahnya tidak kurang dari 100 orang.
Dengan begitu banyak yang diinfaqkan di jalan Allah, beliau ketika meninggal pada usia 72 tahun masih juga meninggalkan harta yang sangat banyak yaitu terdiri dari 1000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3,000 ekor kambing dan masing-masing istri mendapatkan warisan 80.000 Dinar. Padahal warisan istri-istri ini masing-masing hanya ¼ dari 1/8 (istri mendapat bagian seperdelapan karena ada anak, lalu seperdelapan ini dibagi 4 karena ada 4 istri). Artinya kekayaan yang ditinggalkan Abdurrahman bin Auf saat itu berjumlah 2,560,000 Dinar atau sebesar Rp 3.072 trilyun untuk kurs uang Rupiah saat tulisan ini dibuat !
“…dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan” (Q.S.65:7)
Sahabat, seorang wirausahawan sejati haruslah bersiap melalui proses dan harus bersiap untuk jatuh bangun. Seberapa pun besarnya kemampuan kita memeras darah dan keringat untuk membangun bisnis maka tidak lah kokoh ketika 4 pilar dasar kesuksesan ini tidak tertancap ke dalam prinsip dasar kesuksesan kita.
“LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH” .
Wassalamualaikum WR. WB







0 komentar:
Posting Komentar